Selasa, 03 November 2015

When The Rain's Coming!

Now Playing: John Mayer - Half of My Heart

Setelah beberapa lama daerah kosan saya tidak basah karena hujan, akhirnya semalam turun juga hujan dan cukup lama dari jam 8 malam sampai sekitar jam 11-an malam. Ketika hujan dan angin datang mencolek wilayah Jakarta Selatan, beruntung saya masih ada di halte Mampang Prapatan jadi tidak kebasahan seperti diguyur air dari pancuran.. jadi adegannya tuh saya keluar dari bus langsung wussszzz wusszzz hujan!

source: tumblr
Tak sedikit yang menanggapi hujan semalam, sayup-sayup terdengar suara beberapa orang yang berkata "Yah hujan! Belum sampe rumah", "Alhamdulillah hujan", "Akhirnya hujan juga kemarin kemarau terus euy!", yah saya pun berpikir begitu lah manusia, ketika kemarau minta hujan, ketika hujan minta kemarau.

Saya menunggu di jembatan halte Mampang, karena saya tidak bawa payung. Saya ingin menggerutu tapi saya menahan diri. Actually, saya kurang suka hujan karena membuat badan saya basah dan pasti endingnya akan masuk angin, iya badanku saja yang besar tapi kalo kena angin langsung ambyar seperti tunas toge yang baru berumur 4 hari *kenapa perumpamaannya harus tunas toge coba Alvidha? zzz.

Saat menunggu hujan reda di malam hari bersama dengan beberapa orang di samping kiri kanan, saya tiba-tiba teringat kejadian tahun lalu dimana saya mendapatkan pelajaran hidup *cailah gayamu pret.

Tahun lalu, tepat di awal November saya mengikuti tes PNS di salah satu instansi pemerintahan non kementerian sebut saja namanya Ombudsman. Alasan saya untuk ikut tes di Ombudsman bukan karena ingin menjadi pelayan publik seperti visi misinya tapi karena........ kantornya di Kuningan cuy samping Plaza Festival dan belakangnya ada Mall Epicentrum, jadi kalo mau fitness dan nonton film sisa walking cantik aja (emang niatnya aneh pantas kagak lulus sih).

Nah ketika mendapatkan kartu tes, lokasi tes saya berada di tempat antah berantah yaitu Ciracas dan ketika mendapatkan lokasi saya yang "Where the hell this fakkin' Ciracas is?" dan buka google map, baca review sana-sini ternyata Ciracas itu so fakkin' far away from life, damn it (sorry untuk warga Ciracas, ini emosi sesaat pada kala itu kok muach). Tapi setelah curhat panjang lebar dengan Papah, yasudah saya yang hampir tidak jadi ikut tes karena sudah badmood liat lokasi malah jadi ikutan tes.

Pas hari H, saya rapih dong yah cakep banget ceileh mau tes tapi kayak mau ikut kontes hijab revolusioner (?). Dan tiba-tiba ... dwarrr! Bunyi petir menggelegar, perasaan sudah tidak enak dan dengan sukses air turun dari langit. Saya pun menunggu Kopaja 57 depan Alfamart sambil berpelukan dengan tas dan masuk kopaja, kopajanya bocor dll pokoknya komplitlah kejadian yang bikin badmood, belum lagi sampai di Pasar Rebo saya ditipu dikit sama supir angkot yang katanya mau nganter saya pas di depan tempat tes eh tapi malah diturunin di pengkolan dan saya harus jalan kaki sambil hujan-hujanan tralala trilili.

Saya pun menggerutu, menyalahkan hujan, ngedumel dalam hati tentang betapa tidak mengenakkannya hujan itu dan kadang berkata "kenapa mesti hujan sih? au daah". Tapi pas tes saya kembali tenang dan mengerjakan soal dengan lancar-lancar saja dan ngedumelnya lanjut setelah tes. Salah satu teman saya namanya Gagan yang menjemput saya itu hari di Ciracas pun tidak luput dari semprotan omelan. Gagan sempat ngomong "ini gue jemput Pipi' atau jemput Mak Lampir ya?". Maap yah Gan, jangan lupa cendolnya Gan..

And the result is? Saya gagal, dari 100 orang yang keterima nama saya di urutan 104. HAHAHAHA. Luar biasa senggol-senggolnya padahal dikit lagi masuk 100. Papah bilang ini karena salah saya sendiri terlalu banyak menyalahkan sesuatu yang kata orang itu berkah. Yap, banyak yang beranggapan bahwa hujan itu membawa berkah, tapi pada hari itu saya menganggap hujan itu musibah dan mungkin karena saya menggerutu, tidak bersyukur dan lain-lain, maka Tuhan - Sang Pencipta Hujan pun menyentil saya dengan pengumuman yang menggemaskan itu.

Semenjak itu saya pun sadar bahwa apapun yang turun di Bumi ini harusnya dinikmati dan disyukuri saja. Mulai dari hujan, masalah, cobaan, keberuntungan, kebahagiaan intinya semua harus diterima dengan rasa grateful and thankful. Sama seperti hujan semalam, walaupun sedikit menghalangi jalan saya untuk pulang, tapi saya hadapi dengan diam dan sedikit senyuman bukan lagi omelan seperti tahun lalu.

Apapun yang terjadi dinikmati saja. Yap.. anggap cobaan sebagai hadiah untuk mengukur seberapa bersyukurnya kah kamu atas hidupmu walau sedang dalam sulit dan anggap kemudahan sebagai cobaan untuk menguji seberapa ingatkah kamu dengan Dia saat dia memberikanmu hidup indah.

Selamat datang musim hujan, siap-siap obat anti masuk angin, minuman hangan dan jangan lupa bawa jaket agar tidak kedinginan, kamu tahu kan free hugs di kala hujan itu agak susah didapatkan :p

Wassalam :)

Tidak ada komentar: