Páginas

Minggu, 26 Desember 2021

Appreciation Post for 2021

2021 adalah tahun kedua menjalani pandemi. Yah walaupun tahun ini tidak separah 2020 karena sudah ditemukannya vaksin (dan hamdalah ku & suami juga udah vaksin), tapi tetap belum sebebas sebelumnya. 

Seminggu lagi kita akan beranjak ke 2022. Apakah kalian sudah siap? Sebelum beranjak ke 2022, saya ingin refleksi sedikit mengingat apa yang sudah terjadi di tahun 2021 ini. 


Siap menghadapi 2022, aamiin!


Tahun 2021 adalah tahun roller coaster bagi saya sendiri. Ada banyak kejutan naik terus dan bikin "mengkaget' (bahasa anak gaul) baik di awal, tengah hingga akhir tahun. Tapi mau apapun itu ku tetap bersyukur dengan berbagai pengalaman tersebut dan menjadikan pelajaran hidup. 

Di tahun ini, saya dipertemukan dengan lingkungan pekerjaan baru dimana saya bisa fokus menekuni bidang yang sudah lama saya idamkan yaitu social media specialist. Dan alhamdulillah ditemukan dengan perusahaan yang cukup bonafit. 

Lalu pengalaman dalam berkendara mobil (seperti di post sebelumnya ya, 2021 saya udah bisa menyetir lho! Pencapaian bukan? WKWK), saya mengalami accident ditabrak motor oleh buibu, dikarenakan saya ngerem nih karena ada jamet berhenti tiba-tiba, entah mengapa ibu yang hendak nyalip dari kiri jatuh gedubrak (sebenarnya salah beliau kalo dirunut timelinenya), terus karena saya panik, saya yang ngasih dia duit padahal lampu kiri mobil pecah wkwk (sempat dinasehatin suami kalau jangan panik lalalili), tapi yaudah lah ya dijadikan pelajaran HAHAHA. 

Lanjut pengalaman berkendara, hamdalah saya sudah bisa melalui tol japek, yes! Tapi tetap hati-hati dalam berkendara, walaupun kalau dalam mobil, mulut tidak berhenti komat-kamit berdoa. As we know lah ya warga jabodetabek, tol japek adalah tol yang hampi 90% isinya mobil gede transformer, sedangkan kita pe mobil kecil minion kasian sungguh jomplang tapi hamdalah insya Allah sampai di tujuan dengan selamat. Yang super pencapaian, bisa nyetir malam dan hujan (walaupun tetap ketar-ketir). 

Urusan rumah tangga, alhamdulillah normal walaupun kadang kles-kles receh sedikit tapi karena rasa cinta dan sayang mengalahkan segalanya, namanya rumah tangga ya Bun, menyatukan 2 kepala berbeda (tambah 3 karena ada anak). Insya Allah semoga semua lancar, damai dan bahagia selalu.

Apa lagi ya? Sebenarnya ada banyak yang saya ingin ceritakan di postingan ini, tapi mungkin tunggu momen yang tepat. Mari cuss nulis list harapan di 2022!

1. Semoga keluargaku selalu sehat dan bahagia. 

2. Overthinking dan anxiety berkurang

3. Urusan pekerjaan lancar jaya. 

4. Semua hal yang positif

5. BISA MENABUNG DENGAN KENCANG LAGI

Aamiin.

Sehat-sehat yah kalian semua. Love you all!
Wassalam.



Minggu, 03 Oktober 2021

Belajar dari Netflix Series "Never Have I Ever"

Jujur, pandemi membuat saya mencoba menggeluti hal yang dulunya kurang begitu saya minati, salah satunya adalah menonton series. Yang kenal pasti tahu sih bahwa Alvidha kurang suka nonton series dan lebih menyukai nonton film yang 1x tayang langsung tamat, ya alasan simple sih "I have no time, I prefer sleep" HAHAHA. 

Jadilah dari tahun lalu saya mencoba menikmati beberapa series barat yang ada di Netflix mulai dari Sex Education, Peaky Blinders, Sex/Life, Emily in Paris juga Brooklyn Nine-Nine. Selain barat, saya juga menonton beberapa K-Drama dan bisa SAMPAI TAMAT LHO (sebuah achievement) antara lain Sky Castle, The World of the Married dan Start Up, yah memang untuk K-Drama itu tergantung mood sih. 

Nah untuk postingan kali ini, saya ingin membahas salah satu series yang selama weekend ini langsung saya habiskan, judulnya Never Have I Ever (rilis tahun 2020, ada 2 season, masing-masing ada 10 episode).  Actually maafkan kalo postingannya lompat-lompat karena saya sendiri bukan tukang reviewer :))


Never Have I Ever adalah sebuah series drama komedi teenager yang menceritakan kehidupan Devi Vishwakumar, siswi keturunan India yang bersekolah di SMA Sherman Oaks. Devi memiliki trauma yang mendalam karena harus menyaksikan ayahnya meninggal karena serangan jantung tepat pada saat dia harus perform harpa di acara sekolah. Kebayang gak sih? Sampai dia mengalami psikosomatis parah yang menyebabkan dia lumpuh dan memakai kursi roda, lucky her selama masa lumpuh ada 2 sahabat baiknya yang sangat setia menemani yaitu Eleanor dan Fabiola. 

Suatu hari dia melihat teman sekolah namanya Paxton Yoshida - cowok ganteng turunan Amrik Jepang , dan naksir berat. Dari rasa naksir itulah dia bisa sembuh dari kelumpuhan wkwkwk, AJAIB! Lalu setelah lumpuhnya sembuh dan bisa berjalan lagi, Devi, Eleanor dan Fabiola bertekad bahwa mereka harus jadi genk unggul dan jadi "it girl" lah ya, walaupun susah secara mereka bertiga adalah "cewek-cewek etnis", Devi adalah seorang keturunan India, Eleanor dari Tiongkok dan Fabiola keturunan afro-latin.  

Cerita series ini segar banget sih menurutku, karena tiap episode-nya singkat, padat dan jelas. Tidak seperti drama teenager pada umumnya (namun ku akui series teenager yang masih juara adalah Sex Education - nanti lah ya kita bahas ini). Devi yang trying so hard to be "it girl" sambil mengejar nilai akademik karena ingin masuk Princeton Univ, Eleanor yang pengen banget jadi artis, dan Fabiola yang galau karena dia baru sadar jika dirinya adalah lesbian. 

Hal yang paling saya sukai dari series ini adalah pentingnya kesadaran warga sana akan mental health. Di setiap episode pasti kita akan disuguhkan scene Devi bertemu psikolognya, yaitu Dr. Ryan.



Devi seorang siswi SMA tidak malu menceritakan segala trauma, kegundahan dan segalanya ke Dr. Ryan, psikolognya. Devi memang didaftarkan oleh Ibunya untuk mendapatkan sesi terapi. Devi adalah seorang teenager yang memiliki trauma mendalam karena kepergian ayahnya, culture India yang masih mendarahdaging dari Ibunya, memiliki ekspektasi agar menjadi siswa teladan dan juga it girl di sekolah. Dan sadar harus terapi ke psikolog adalah poin yang sangat bagus menurutku. 

Jujur, saya pun baru sadar akan pentingnya mental health itu sekitar 6 atau 7 tahun lalu yang dimana tahun tersebut baru diperkenalkan dengan fungsi psikolog/psikiater. Sebelumnya saya selalu judge bahwa psikiater itu hanya untuk "orang dengan gangguan jiwa". 

Melalui series ini, pikiran saya semakin terbuka, once ketika nanti anak saya memiliki kecemasan atau entah apa, saya harus menjadi orang tua yang paling tidak bisa mendengarkan segala kegelisahan dia, bukan hanya orang tua yang memenuhi kebutuhan fisiknya saja, tapi juga menjadi orang tua yang memenuhi pendekatan jiwanya. Menjadi orang tua yang bisa menjadi bahu sandaran ketika dia sedang galau, atau kalaupun tidak bisa, paling tidak bisa membawa dia ke psikolog atau psikiater. 

Dari series ini, saya juga belajar bahwa Puan beberapa tahun lagi, jika diberi umur panjang, akan melewati fase teenager sama seperti Devi, Eleanor, Fabiola dan karakter lainnya. Dan saya harus siap menghadapi itu semua. Paling tidak saya harus mendukung keputusan hidup dia, mengijinkan dia berkegiatan di luar (asalkan yang positif ya), mengajarkan dia menjadi teman baik dan hal positif lainnya. Aamiin.

Selasa, 02 Maret 2021

Tangisan Pagi

 Pagi ini hujan turun di Bekasi, saya cuma berdua dengan Puan di rumah karena Baba' sedang dinas. Puan sedang menikmati bubur ayam, petir pun bergemuruh. Saya pun ngide untuk akting ketakutan 

Me: Puaaan.. Mama takuuuuuttt.. huhuhu

Dan Puan turun dari bangkunya, memegang tanganku dan berkata dengan terbata-bata "Mama.. No takut... Ini Puan.. Mama no takut". Tanpa sengaja diri ini langsung menitikkan air mata di sudut mata. My daughter really loves me. Purely. Love you Puan. 

Wassalam.

Kamis, 04 Februari 2021

Rindu Stasiun Kereta

Tadi pagi saat membuka timeline twitter, saya melihat postingan dari akun @txtdrjkt tentang kegemaran seseorang memotret situasi di stasiun kereta. Sebagai orang yang juga menyukai suasana stasiun, saya pun membagikan juga beberapa foto yang saya ambil dari berbagai stasiun kereta yang berada di Jabodetabek.





Jujur kangen banget sih sama suasana stasiun. Teringat momen harus lari-larian dari pintu masuk ke peron hanya untuk mengejar kereta jadwal pagi, tumpuk-tumpukan bersama para pencari duit Ibukota serta rebutan kursi. Saya juga jadi teringat momen awal kerja di kantor baru yang lebih santai yaitu sengaja pulang jam 16.00 untuk ngejar kereta 16.44 arah Manggarai-Bekasi terus sambil nunggu beli shabu-shabu murah dari Lawson rasanya ahhh mantapp!

Kalo dipikir, warga Ibukota memang strong dan struggle sih. Mau naik kendaraan pribadi maupun umum. Bawa kendaraan pribadi yah bersiap saja dengan kemacetan, naik kendaraan umum siap-siap saja jadi "ikan sarden" atau opsi beli/sewa tempat tinggal dekat kantor? Harus sediakan dana yang spektakuler. 

Doaku selalu menyertai para pekerja Ibukota yang selama pandemi ini harus tetap berkantor tatap muka, semoga selalu dilindungi dan diberi kesehatan. Aamiin! Begitupun yang wfh, semoga tetap waras di rumah, manfaatkan priviledge wfh ini dengan baik. 

Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa hidup secara normal lagi. Aamiin. 

Senin, 01 Februari 2021

Melawan Ketakutan di 2021

Halo, Genks! Semoga kalian selalu sehat!

Sesuai judul Melawan Ketakutan. Yap, sejak lama saya punya ketakutan untuk menyetir mobil, yah takut aja gitu hahaha. Saya selalu takut ketika misal bisa menyetir dan nabrak orang, terus orangnya ngeroyokin. Saya memiliki trauma dengan kegiatan menyetir mobil, dimulai dari Mama saya sendiri.
Pernah pas SMP, saat diantar ke sekolah oleh Mama saya dengan mobil kantor milik Papa. Ingat banget mobil Kijang kotak. Nah pagi itu lagi apes, Mama nabrak pengendara motor yang adalah seorang tentara. Di posisi ini Mama memang salah karena mau memotong jalan yang tidak seharusnya dan dari arah samping, pengendara motor ini kencang banget dan duwaaarrr! Tabrakan tapi alhamdulilah Si Tentaranya selamat. Nah yang bikin trauma, mereka berdua bertengkar sampai rebutan kunci serta adu mulut dan saya sedang duduk di depan melihat itu semua dan menangis (padahal saya cuma penumpang wkwk tapi ya nangis aja gitu). Disitulah ketakutan saya muncul "I never drive a car" kataku dulu dalam hati hahahaa.

Seiring waktu berjalan dan rezeki yang datang ke keluarga kecil saya, kami bisa membeli mobil. Nah disinilah suami saya mengultimatum bahwa saya harus bisa menyetir mobil. Suami cukup menyayangkan mengapa saya tidak bisa bawa kendaraan padahal sebelum menikah, keluarga saya memiliki mobil which is katanya itu adalah sebuah priviledge. Lalu saya ceritakan bahwa saya panikan, takut dan lalalili. Saya cerita pernah belajar tapi takut dan ujung-ujungnya ya mandeg, Guyz! Hahahaha. 

Tapi, suamiku tetap gigih menyuruhku untuk pandai menyetir. Mengapa? Suamiku selalu pergi keluar kota, tidak diminta-minta takut ada hal urgent dan dia sedang tidak di rumah. Mau andalkan taksi online sampai kapan? Toh mobil juga sudah punya. Yah demi suami dan si buah hati akhirnya di Januari kemarin saya mendaftarkan diri di kursus menyetir mobil dekat rumah. Saya mengambil langsung paket mobil matic, karena saya sudah lelah belajar kopling hahaha, toh mobil di rumah memang matic. 

Selama 4 hari saya belajar, tiap pertemuan memakan waktu 2 jam. Saya diajar oleh guru profesional di bidang menyetir dan pastinya SABAR BANGET menghadapi saya yang dikit-dikit rem dan masih takut ngegas hahahaa. Saya pun menghapal beberapa saran penting dari guru nyetir saya bahwa "jangan panik, kalo ada apa-apa mending rem daripada banting setir". 

Coba nyetir mobil sendiri *difotoin suami

Selepas kursus, saya juga latihan dengan mobil saya sendiri di jalan. Alhamdulilah sudah bisa tipis-tipis, walaupun kata suami "Kamu ya kalo bawa mobilnya pelan gini, kasian orang di belakang, beraniin aja injak gas" Yah namanya juga belajar ya kaaan harus pelan-pelan dulu, wkwk. 

Ketakutan memang jika tidak dihadapi akan selamanya takut. Jadi ya coba saja. Sekarang sisa menunggu waktu untuk mengurus SIM dan mencoba jalan lagi kesana kemari dengan mobil. Doakan ya teman-teman, semoga bisa!