Jumat, 29 April 2016

Penantian Ratusan Purnama | Review AADC 2

Now Playing: Bimbang by Melly Goeslaw

salah satu scene di AADC 2 | foto: googling
Mohon maaf sebelumnya bagi yang belum nonton film ini, saya tidak bermaksud untuk spoiler hehehe. Saya cuma ingin  mereview film ini dari sisi saya sebagai penonton film biasa, bukan pengamat film atau orang yang mengerti film, hahaha apalah saya ini.. mata kuliah Cinematografi di semester 6 saja cuma dapat tugas ngedit offline, jadi kalo mau ngomentarin film dari sisi anu itu saya kurang paham.

Saya awalnya menonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC #1) ketika saya masih duduk di bangku SMP kelas 3 yaitu di tahun 2005. Iseng saja beli vcd-nya, karena sewaktu 2002 sempat hits (waktu itu saya masih SD men, demennya masih Tom and Jerry) jadi saya memutuskan untuk menonton film ini. Selesai menonton AADC 1, saya selalu berharap dalam hati "Tuhan, semoga ada sekuelnya" tapi tidak ada tercium bau-bau pembuatan sekuel film ini, yang dibuat malah serial tv yang heleehh (sorry to say, saya tidak suka dengan drama serial yang banyak episodenya hahaha). Sejak saat itu saya pupus berharap jika sekuel AADC akan dibuat.

Dan..

Setelah ratusan purnama (tsa'elah), akhirnya saya mendengar kabar dari berita bahwa AADC 2 akan dibuat dan siap disaksikan oleh masyarakat yang menantikan film ini dan saya adalah salah satu dari masyarakat yang sangat excited menonton kelanjutan film itu. Lebay ya? Ember hahaha, karena film AADC ini begitu membekas di hati sih (eyaaa) dan endingnya memang menggantung yang "njir.. Cinta sama Rangga jadian ga ya? Anu nda ya? Itu nda ya". Gitu.

salah satu scene di AADC 1
Saya cukup beruntung bisa berkantor di kantor saya yang sekarang, mungkin karena anak media jadi kegiatan nonton bareng di tengah jam kantor dibolehkan saja. Jam 3 sore, saya bersama teman-teman kantor pergi ke XXI Taman Ismail Marzuki untuk menyaksikan AADC 2.

Diawali dengan pertemuan Cinta dan sahabat-sahabatnya di sebuah art gallery dan merencanakan untuk pergi liburan bersama di Jogjakarta. Dan tak diduga Cinta bertemu Rangga disana. Konflik pun terjadi, mulai dari konflik 'sesuatu yang tidak selesai' tersebut, konflik batin, konflik persahabatan yang sukses membuat saya senyum-senyum sendiri, sedih, tertawa dan pastinya baper alias bawa perasaan *tissu mana tissu.

Sosok Rangga yang introvert, penuh misteri serta sosok Cinta yang cheerful tapi sensitif masih bisa dirasakan di film ini. Situasi juga sudah berbeda, "sudah dewasa" kalo saya bilang. Puisi-puisi yang romantis juga akan memenuhi sudut film ini, dijamin hati akan melt dibuatnya. Ada juga beberapa kejutan yang akan ditampilkan di film ini. Film ini mengalir apa adanya, ada sisi sensitif dan juga sisi humornya.

Filmnya begitu sederhana, gampang dicerna, yah sesuailah dengan kehidupan sehari-hari. Karakter film Riri Riza dan Mira Lesmana juga kerasa sekali, seperti menampilkan sisi lain sebuah kota (yah sisi anti mainstream lah ya), tiba-tiba daerah Kuningan Jakarta Selatan jadi cakep bener etdaah tiap hari lewatin Kuningan biasa aja, pas masuk dalam frame langsung sendu-sendu gitu. Hahahaha. Riri Riza juga mengangkat Jogja dari sisi lain, pokoknya yang ditampilin bukan yang mainstream deh (dan saya yakin tempat itu akan jadi hits disana, yakin banget).

Sama seperti film AADC 1, ada juga kritik sosial yang disampaikan di film ini yang bisa kalian nikmati. Para pemeran dengan karakter masing-masing membuat film ini lebih berenergi positif, masing-masing peran serta backsound lagu yang bagus sukses membuat kisah film ini menjadi indah dan layak untuk ditonton. Lupakan kesan "ih.. film romantis pasti menye banget deh!", nonton saja lah! Ini film Indonesia yang bagus kok. Serius.

Itu saja review sederhana saya sebagai penonton biasa. Film ini sungguh enak dinikmati bersama teman-teman, jangan sendirian hahaha boleh aja sih kalo kuat mental. Saya saja setelah menonton film ini langsung mood swing gitu ingat masa lalu, tapi setelah keluar dari bioskop langsung switch ke masa sekarang yang jauh lebih penting.

saya liat scene ini malah senyum-senyum sendiri hahahaha
"Panas di kening, dingin dikenang" - salah satu bait puisi yang paling saya hapal dari film ini.

Yah seenggaknya penantian ratusan purnama saya tidak mengecewakan. Hahahaha.

Sekian tulisan saya, semoga sineas-sineas Indonesia mampu berkarya lebih baik lagi. Aamiin.

Wassalam :)

Selasa, 26 April 2016

My Happy Monday!

Now Playing: Us The Duo - Falling in Love

Hai!

Bagi saya hari Senin adalah hari yang selalu saya awali dengan dzikiran dan berdoa "Ya Allah, Senin lagi.. beri hamba-Mu ini kekuatan, aamiin". Agak lebay sih tapi memang benar energi harus dikumpul baik-baik ketika hari Senin sudah muncul di depan mata. Faktor umur, sudah lelah. Wahahaha. Tapi harus disyukuri.

Senin kemarin adalah Senin terhappy bagi saya, mengapa? Karena saya bertemu dengan salah satu keponakan saya yang ganteng bernama Raffi. Si Raffi ini anak dari adik sepupu langsung saya yang bernama Nona, kalo dari silsilah keluarga Nona ini berasal dari keluarga Mama alias "Keluarga Bulukumba", hehehe saya membagi dua keluarga saya sih ada yang "Keluarga Jawa" (Papa) dan "Keluarga Bulukumba" (Mama), masing-masing memiliki ciri khas yang jomplang banget hahaha tapi saya tetap menyayangi keduanya.

Senin pagi, Nona mengirimkan pesan kepada saya bahwa dia ingin sekali bertemu dengan saya sekalian pamit karena dia akan kembali ke Palu bersama suami dan anaknya. Saya pun mengiyakan dan bertekad dalam hati "pokoknya hari ini harus pulang cepat dan naik kereta ke Kalibata apapun rintangannya".

Sampai di Kalibata City, saya pun langsung bertemu dengan Nona dan Raffi, Si Agi - suaminya Nona - pergi merokok ntah kemana dan akhirnya kita berdua pun jalan bersama mengelilingi mall yang ada di area tersebut.

Hello Raffi! Ante Pipi is hereee! 
And I look like Kangaroo -_-
Nona, Raffi dan saya yang kumel habis pulang kerja dan desak-desakan di kereta hahaha
Nona memang lebih muda 3 tahun dari saya, tapi dia lebih duluan menikah dan punya anak. Ya kebanyakan perempuan di keluarga Mama saya memang memutuskan untuk menikah muda. Perbincangan kami berdua pun tak lepas dari kehidupan masing-masing, maklum saya sudah 2 tahun tidak bertemu dengan sepupu saya yang satu ini karena jarak yang membentang di antara kita berdua.

Kita berdua bertukar pikiran, mulai dari saya yang menceritakan tentang kehidupan pekerjaan serta suka duka merantau di Jakarta dan Nona yang bercerita tentang kehidupan setelah berumah tangga. Raffi juga termasuk anak yang tidak rewel, cukup diberi susu dan dipeluk langsung diam, yah tipikal anak yang gemes dan minta dibawa pulang ke kosan banget hahahaha.

"Jadi Ibu itu sungguh membahagiakan Mbak Vi, rasanya ingin berterima kasih sama Mama tapi Mamaku sudah tidak ada", yah Ibu dari Nona (kakak Mama saya) memang sudah tiada, tapi overall saya melihat sepupu saya ini adalah Ibu yang baik dan sangat menjaga anak dan suaminya. Sungguh dewasa walaupun umurnya lebih muda dari saya (terus melihat diri sudah tua tapi kebalikan masih childish wehehehe).

Setiap pertemuan pasti akan ada hikmah yang terselip yang bisa dijadikan pelajaran untuk diri sendiri maupun orang lain. Dengan berbagi pengalaman satu sama lain, kita bisa belajar untuk "switch position" atau berpikir seperti "kalo saya di posisinya dia bisa tidak hadapi ini itu dll?" dan dengan switch position itu akan muncul rasa empati dan simpati yang jauh lebih tinggi daripada rasa merendahkan atau judge sembarangan. Itu yang saya pelajari sekarang supaya hidup lebih indah dan selalu dinaungi rasa positif.

Olahraga ini namanya hahahaha, pulang-pulang encok
God bless all Mommy in this world!
Terima kasih untuk Nona dan Raffi untuk Senin yang ceria ini. Stay cheers and happy with your life!
Will see you again Nona, Raffi and Agi!

Wassalam :)

Kamis, 21 April 2016

Afternoon Thought

Keep smile, it heals all pain
location: Taman Mangrove PIK Jakarta Utara

Jujur,  saya dibesarkan dengan kisah-kisah princess dan magical life, saya meyakini bahwa one day ketika saya telah dewasa saya bisa dengan mudahnya mendapatkan sesuatu yang saya inginkan hanya dengan mengayunkan tongkat sihir dan setelah itu akan datang pangeran ganteng model Keanu Reeves mengendarai kuda putih dan datang menikahi saya (wth?).

But, as I grow older, life is not easy that way. Hidup ternyata seperti naik wahana Hysteria yang ada di Dunia Fantasi, naik turun tanpa permisi dan di tengah perjalanan kadang mau pingsan, tertawa dan teriak tidak karuan. Tapi ternyata justru yang naik turun itulah yang sebenarnya membuat hidup menjadi lebih indah dan patut untuk dicintai kehadirannya.

Beberapa hari lalu, ketika jenuh melanda hidup ini (sempat curhat di postingan sebelumnya kok, ehe) saya menelpon Mama saya di rumah dan mengeluh tentang kejenuhan yang saya alami dan beliau menjawab "Eh masih ada orang yang mau hidup seperti kamu". Saya seperti disetrum, benar juga sih. Biasanya saya memberi saran kehidupan ke orang-orang terdekat, sekarang malah saya yang diberi saran, yapp hidup memang merupakan kegiatan 'bolak-balik' posisi saja.

Life has its own bittersweet nature that makes us inevitably appreciate and love it so much. As time went by, I realized that love also has the bitter and sweet that actually keeps us going.

Tetap tersenyum dan bersyukur :)

Wassalam

Senin, 11 April 2016

That Moment

Now Playing: The Verve - Sonnet

Belakangan ini saya sering terbangun tengah malam, bukan karena kelaparan tapi mungkin pikiran.. yah, yang membuat tidur malam ini kurang begitu nyenyak, padahal biasanya kalo tidur macam Snorlax (jenis pokemon yang kekuatannya yaitu: tidur *oke Alvidha penggemar Pokemon. Banget. Sampe hapal)

Saat mengetik postingan ini terdengar di telinga lagu-lagu pelan nan syahdu dari Bach, Aditia Sofyan, The Verve dan beberapa lagu lain yang sengaja saya pilih agar saya kembali mengantuk tapi kenyataannya tidak bisa.

Tadi jam 10 malam, saya ditelpon oleh sahabat saya. Seorang sahabat yang paling saya percaya untuk menceritakan seluruh kegundahan gulana yang ada di kepala (sebaliknya dia pun begitu, maklum berteman dari TK jadi soulnya sudah dapat). Saya pun bercerita tentang seluruh gundah gulana yang membuat saya agak lunglai belakangan ini. Seperti biasa, dia mendengarkan dengan seksama. Yap, best listener memang susah sekali ditemukan. One in a million.

Setelah cerita panjang x lebar x tinggi, sahabat saya berkata "Kau toh cuma butuh piknik sendiri. Saking kurangmu piknik, terlalu banyak insecuremu, mengakar kemana-mana". Hm.. Maybe.

Kadang kalo sudah masuk situasi seperti ini saya menyebutnya "keluar sejenak". Iya, sepertinya saya sedang 'jenuh' dengan rutinitas. Sudah mencoba membuat goal harian agar hidup tidak suram-suram amat seperti: lari tiap Senin, Rabu, Jumat di GBK, pulang lewat jalur yang berbeda tapi tetap saja bosan. Ngooong.

Ternyata menjadi setia itu tidak mudah. Saya sedang tidak membahas relationship ya. Tapi, setia terhadap rutinitas itu susah sekali Oh Tuhan. Kadang heran sama ini manusia-manusia ibukota yang melakukan aktivitas itu-itu saja tiap harinya dan berpikir "Setdah.. Bisanya hidup tiap hari begini khanmaen".

Saya akui, belakangan ini memang saya feeling un-inspired. Nda tau kenapa. Ya balik lagi kata teman "kurang piknik". Mau piknik juga kemanaaa~. Naik gunung? I'm not a mountain person. Dari kemarin cari laut sih, dari kemarin browsing tour nyebrang pulau tapi harus group (nyari groupnya ini susah zzzz)

Tapi seenggaknya malam ini tidak suram-suram amat juga. Barusan dapat email dari Kelas Inspirasi kalo saya lulus jadi volunteer ngajar selama sehari di salah satu sekolah di Jakarta di bulan Mei nanti. Alhamdulillah. Yah seenggaknya ada 1 hari dimana saya bisa berbagi dengan orang lain dan banyak. Ketemu anak sekolahan, yeayy!

Mungkin saya butuh goa untuk bertapa terus keluar dan menjadi seseorang yang lebih fresh. Tapi disini nyari goa dimana dah? Lagian kalo bertapa kan lapar ya? Ada tidak ya goa tapi dekat KFC gitu jadi kalo bosen bertapa sisa ngesot ke KFC atau warteg deh beli tongkol cabe. Oke semakin ngaco kau ini Alvidha. Tidur saja sana.

Goodnite. Mau tidur, semoga masih bisa bangun. Doakan semoga pas bangun sudah ada pikiran mau piknik kemana.

Wassalam