Rabu, 20 Mei 2015

Under The Jakarta's Sky

Nowplaying: Forget Jakarta - Adhitia Sofyan

Afternoon Jakarta - taken from Halte Tegal Parang

Sabtu, 09 Mei 2015

Happy May 9th, Dear Meike!

Saat menulis postingan ini, saya ditemani oleh suara dari anak-anak kosan sebelah yang sedang nge-jam dan lagu yang mereka mainkan adalah "Benci Untuk Mencinta" yang dipopulerkan oleh Naif, lengkap sudah ke-ambyar-an malam ini. Hahaha.

Hari ini tepat tanggal 9 Mei 2015, salah satu saudara lain ibu saya bernama Meike berulang tahun, sesuai arti namanya Meike yang adalah lagu yang indah, Meike telah memberi nada-nada yang indah namun nyeleneh dalam hidup saya. Ahahaha. Canda. Yah, tapi memang, Meike adalah salah satu aktor yang cukup berperan dalam drama yang kujalani di dunia ini.

Mungkin bagi pembaca blog ini, sudah ada yang tahu tentang sosok Meike ini yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatku yang kukenal saat menginjaki kedua kakiku di kampus merah, yap Unhas Makassar. Saya selalu ingat pertemuanku dengan Meike ini. Kala itu saat mengurus surat apalah itu di Dekan dan saya bertemu dia. First impression "anjir ni anak songong sekali pasti.. judes sekali.." ternyata salah, dia sangat ramah dan ceria serta memiliki senyum yang lebar, gigi yang rapi dan mata yang tertutup ketika tersenyum lebar. Kau bisa membedakan saat dia tersenyum ikhlas dan terpaksa kok! Senyum ikhlas ketika senyum dan matanya berubah menjadi segaris.

Ada banyak drama kehidupan yang sudah saya lalui dengan gadis keturunan Ambon ini. Mulai dari drama percintaan, drama saat saya mulai fokus ke percintaanku dan melupakan dia tapi dia tetap ada buatku, drama dia kehilangan Rambo, drama hubungan kami meregang, drama twitwar, drama apalagi ya dan drama berbaikan. Haahahaha. Shit, dasar manusia elemen tanah kita berdua ini (ya dia Taurus saya Virgo) jadi banyak dramanya.

Meike adalah sosok yang pintar, rajin membaca, visioner, dan religius serta memiliki selera musik yang dahsyat, itulah yang membuatku kagum padanya, tulisan di blognya bagaikan mata kuliah kehidupan bagiku. Pokoknya otak encer deh. Namun, ada satu hal yang tak kusuka darinya adalah keras kepala. Faktor karena dia anak tunggal mungkin, kadang kalo keras kepalanya kumat, saya hanya bisa diam. Tapi, namanya sayang.... Sekeras apapun dia, saya tetap luluh, dan tak akan marah padanya. Meike adalah pendengar ceritaku yang terbaik dan best adviserku sejauh ini.

Apa kabar Meike? Semoga kau selalu dalam lindungan-Nya. Itulah penjabaranku tentang dirimu setelah hampir 6 tahun saya mengenalmu. Hari ini umurmu sudah menyentuh angka 24. Hampir seperempat abad. All best wishes just for you Meike. Jujur, saya kangen. Banget. Kita berada di satu pulau, tapi jarak cukup jauh memisahkan. Kamu di Kota Keraton, saya di Kota Jahanam. Kamu di kota yang warganya legowo, saya di kota yang warganya awut-awutan. Saya rindu makan berdua di A&W sambil ngobrol tentang kehidupan.

Selamat menikmati umur 24-mu, Meike. Tetap gunakan warna cerah. Tetaplah menjadi lagu yang indah, dan kurangi keras kepala. Nih kukasih bonus foto favoritku yang k ambil dari facebookmu. Hahahaha. Miss you so much.

Wassalam

Selasa, 05 Mei 2015

A Cup of Hot Chocolate and Gloomy Afternoon

Now Playing: Landon Pigg - Falling In Love At Coffee Shop *this is my favorite song for this week!

Long weekend kemarin (1-3 Mei 2015), saya menghabiskan waktu bersama Papah saya di Karawaci - Tangerang, yah lumayan sih menghabiskan waktu bersama orang tua selama 3 hari, bisa hemat hehehe karena makan tidak perlu ke warteg, memasak sedikit di dapur rumah sret sret sret langsung jadi. Setidaknya menghabiskan waktu 3 hari bisa mengobati kerinduan saya dengan Papa saya setelah tidak bertemu selama sebulan karena kesibukan masing-masing, saya dengan urusan kantor dan beliau dengan urusan proyek yang sedang beliau kerjakan.

 Di rumah pun kita berdua menelpon ke Makassar dengan menggunakan fitur video call, berbicara dengan Mamah, Adek serta Kakak sambil memandang wajah masing-masing, bisa kulihat wajah Mamah saya yang sangat merindukan kami berdua. Yah, suka duka keluarga yang sedang menjalani Long Distance Relationship ya begitu, kita hanya bisa berterima kasih kepada teknologi yang bisa mengobati kerinduan walaupun tak seindah saat bertemu dan berpelukan langsung.

Minggu sore saya pun pulang kembali ke kosan, tak lupa saya selfie-selfie dulu dengan Papah saya (teteeeuuupp).....

With Papa ku yang ganteng yang masih sering ngasih duit jajan :p
Di atas motor saat dia mengantarku ke halte Bus yang akan membawaku kembali ke Jakarta, saya ngobrol dengan Papah...

*Papah: Kamu kapan pulang ke Makassar? Papah nanti pulang pas hari lebaran ya, soalnya Papah mau sungkeman dulu sama Mbah (ibunya Papah)
#Me: Iya, saya pulang H-2 lebaran, Pah.. yah jadi Papah ga solat ied bareng kita dong?
*Papah: Yah, namanya juga anak kan mau sungkem ama Ibu dulu.. kamu juga pulang kan mau sungkem sama Mamah, ya Papah juga gitu sungkem Ibu dulu baru balik.. Oke!
#Me: Oke deh cuyyy~
*Papah: Gih pulang kamu.. enak aja setahun kagak pulang-pulang.. 
#Me: Iyee.. iyee, ini besok ngantor mau buka website tiket kok langsung booking
*Papah: Banyak duit niye... Cariin Papa sekalian ye..
#Me: Okebossss

Entahlah saya merasa percakapan di atas tidak seperti percakapan Ayah Anak sewajarnya, malah jadinya seperti percakapan dua orang yang lagi mangkal di portal untuk siskamling. Hahahaa. Yes, that's why i love my Papah, gaul binggo!

Setelah duduk di bus dan menikmati 45 menit perjalanan menuju Jakarta, saya memandangi langit melalui jendela bus, yah seandainya ada sutradara, bisa lah adegan ini dibikinin video klip untuk lagu Malaikat Juga Tahu, sambil nyandar di jendela bus sambil menatap langit Jakarta yang lagi sendu-sendu gitu. Ngokk!

Saya pun sampai di Jakarta, dan melanjutkan perjalanan ke kosan dengan menaiki Metro Mini. Setelah sampai di Mampang Prapatan, saya singgah dulu ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan anak kosan, maklum ye awal bulan, duit lagi meriah asoooy dan ada beberapa kebutuhan yang sudah habis seperti sabun, sampo, cemilan, cinta juga.. yah seandainya cinta dijual di supermarket, ta' borong kali.. hahaha canda.

Setelah berbayar ini itu saya pun mendorong trolley ke gerbang dan WUZZZZ, angin kencang serta hujan menyambut saya, oke saya gagal pulang ke kosan, padahal saya sudah mendambakan kasur serta bantal di kosan yang menyambutku untuk tidur siang (yes men, tidur siang adalah momen yang langka bagi karyawan seperti saya).

Menengok kiri kanan, oke ada gerai donat di sebelah kiri, saya pun mendorong trolley ke arah gerai donat tersebut, memesan hot chocolate, duduk cantik melihat gadget dan menatap ke arah jendela, hujan masih cantik-cantiknya.

Alvidha, Hujan dan Segelas Cokelat Panas. Sendu yah... 
Saya melihat di depan ada sepasang muda-mudi yang sepertinya sedang dimabuk asmara, karena saling tatap menatap dan tak mau lepas, oke.. balik kanan ada sekeluarga yang juga sedang menikmati kopi dan donat sambil ketawa-ketiwi tak peduli petir sedang disko-disko di atas langit, dan saya menatap ke sebelah kiri ada kaca serta pantulan bayangan seorang perempuan berumur 23 tahun duduk memegang segelas cokelat, memakai jilbab dengan lipstick yang mulai pudar, oke itu saya.

Pikiran mulai mengakar kemana-mana, salah satu pikiran yang paling saya ingat adalah "Gile lu.. setahun lebih kagak pulang, kacau!", Yah, itu benar sudah setahun saya tidak pulang hehehe. Kangen rumah? Pasti.

Sudah banyak orang yang menyuruhku untuk pulang, menyuruhku untuk mencari kerja di Makassar, tapi entah mengapa hati ini selalu menolak. Bukankah mengikuti kata hati itu perlu? Apa yah, banyak pelajaran yang bisa kuambil dari merantau ini, pemirsa. Salah satunya menjadi pribadi yang mandiri.

Saya selalu ingat di Makassar, kemana-mana selalu diantar-jemput entah oleh siapapun yang saya kenal, mulai dari orang tua, pacar (duluuu), sahabat, abang bentor, pokoknya transportasi aman dan terkendali. Sedangkan disini? Ku berada di lingkungan yang asing, tak kenal siapa-siapa, kalaupun ada yah kurang akrab sih. Jadi, saya harus menggunakan public transportation yaitu Trans Jakarta, kopaja, metromini, dll,

Sebagai perempuan yang dulu doyan diantar jemput, naik kendaraan umum adalah hal yang hmm cukup ekstrem, yah.. public transportation di ibukota beda dengan di Makassar, di sana ada yang namanya pete-pete. Kita tinggal masuk dan duduk, kalau sudah full yah kita skip saja menunggu pete-pete yang lain. Disini?? Asli desak-desakan, tak dapat tempat duduk? Yowes berdiri, daripada terlambat??

Salah satu momen paling ekstrim yang pernah saya rasakan di jalan raya ibukota adalah saat saya menaiki kopaja ke arah Manggarai dan kopajanya lagi kurang, dan muncullah kopaja tersebut tapi sangat full, dan terpaksa saya harus berdiri di pintu, memegang pintu dan saya berasa seperti sedang surfing di jalan raya ibukota. Oh My God, seandainya Mamahku melihat keadaanku dengan transportasi sini mungkin Mamahku akan memohon padaku "Nak, pulang saja lah Nak! Biar Mama antar jemput naik mobil daripada kamu harus menderita", nyaman bukan? Tapi saya lebih menikmati ini. Berdesak-desakan dengan warga Jakarta yang lain untuk berangkat ke kantor adalah salah satu kenangan terindah yang nanti akan kuceritakan kepada penerusku. Aamiin.

Yah, itulah suka duka ketika kita keluar dari comfort zone kita. Ada banyak sesuatu yang berbeda yang muncul di kehidupan kita. Lingkungan baru, orang-orang baru dan cerita baru.

Hujan di luar sudah mulai reda, coklat panas yang kupesan juga sudah mulai dingin dan hampir habis. Pasangan yang tadi duduk di depanku masih saja bermesraan dan keluarga ceria nan bahagia yang duduk di sampingku masih saja bercengkerama. Saya pun bergegas untuk pulang. Ada cerita baru yang akan bertemu denganku yang pasti akan lebih seru dari ini.

Dear Ibu, Adek dan Kakak.. Insha Allah bulan Juli saya pulang kok.. Saya sudah beli tiket, hehehe. Wassalam