Kamis, 29 Januari 2015

talk about "marriage"

Now Playing: Imagine Dragons sealbum via youtube, ya maklum internet di kantor sinyalnya tumpah ruah kayak air di ember yang lupa dimatiin kerannya.

Di Selasa pagi yang cerah dan indah dengan sedikit serpihan air beterbangan, hape saya berdering, suara "Toccata"-karya Bach meledak dari hape, keluar asap, muncul vampir, canda, dan yah terpampang jelas nama "Momski" yang menelpon saya. Dengan suara serak gemas *yakale*, saya menjawab telpon dari orang yang telah melahirkan saya 23 tahun lalu "Ya.. Kenapa ma'?", kemudian dengan suara sopran entah berapa oktaf menyahutku, "Eh bangun mi itu, anak gadis! Itu e anaknya ibu blablablabla sudah mau menikah, padahal kamu seumuran blablabla, mama di umur kamu sudah punya anak blablabla" yah and another blablabla from my Mother in this morning, membuat kepala saya hampir pecah.

Jujur, saya paling malas jika ditanya tentang salah satu yang katanya diidamkan para perempuan di dunia ini, yaitu "pernikahan". Oke, siapa sih yang tak ingin menikah? Semua mengidamkan pasti. Sebuah pernikahan yang didasari oleh cinta kasih, direstui dua keluarga, didoakan masyarakat dan menuju sebuah tujuan yang di agama saya disebut sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin.

Salah satu perkataan Mamah saya "jangan terlalu ikut arus, karir dikejar telat nikah lalalala~" . Yah, setiap orang punya cara pandang yang berbeda. Mamah saya ada satu dari ribuan perempuan yang menikah muda, menikmati masa awal 20 tahunnya dengan menggandeng seorang lelaki dewasa dan diikat dalam satu tali yang disebut pernikahan, berkembang biak dan melahirkan anak-anak yang bandel menggemaskan yaitu kami bertiga, anak-anaknya. Hidup yang cukup diimpikan oleh beberapa perempuan, menikah dengan lelaki mapan di masa muda. Dan Mamah saya beruntung dengan hal ini.

Lalu bagaimana dengan saya? Apa yah... jika ditanya mengenai pernikahan, paling saya menjawab "Iya, nanti.. kalau sudah bertemu yang tepat, mohon doa restu blablabla" dan segala basa-basi lainnya. Maklum, saya orangnya malas ribet dan ribut. Yah, saya masih belum terlalu matang untuk berkomitmen, walaupun sekarang sedang belajar untuk mematuhi komitmen.

Sering saya berdiskusi dengan orang yang lebih tua dari saya tentang pernikahan. Ada yang berkata pernikahan itu menyatukan dua insan yang berbeda. Laki-laki dan perempuan. Segala sifat dan sisi dari kedua mempelai harusnya saling melengkapi, saling menyayangi dll.

saling menyatukan, melengkap, dan berfusi (?)
source : deviantart.com

Sering saya melihat newsfeed facebook dari kerabat terdekat saya, ada yang baru saja melangsungkan pernikahan, ada yang baru lamaran, ada yang ngirim undangan, upload foto kemesraan, dan saya hanya bisa berdoa dan turut senyum mesem-mesem kemudian dalam hati "God, me too, please, with the right person that You'll send to me. Big Amen".

We never know, who'll be stand beside you on that special day. Bisa saja kekasih yang kamu pacari, bisa jadi sahabatmu, bisa jadi orang yang sering kamu temui di halte and another scenarios from God. God is a best director you know, God will give you a good scenes and you'll never be regret ;)

Pernah juga saya bertanya kepada kerabat saya yang baru saja melangsungkan pernikahan "Gimana cuy? Tidur ada yang nemenin", dan dia mesem-mesem menjawab "Iya nih tidur ada yang kelonin, bangun tidur ada di di samping". Oke, That point. Bangun tidur ada orang di samping. Mungkin saja saya belum bisa menikah karena hal tersebut. Saya aneh saja gitu, ketika kamu bangun tidur, ada orang asing di sampingmu yang tak lain tak bukan adalah suamimu yang lagi asik ngorok sambil garuk-garuk bokong. Omaigat,

Yah, kata agamaku menikah itu ibadah, tapi menikah cepat bukan sebuah keharusan kan? Mungkin menikah cepat itu bagus, tapi saya sendiri hanya ingin "menikah tepat". Iya, menikah dengan orang yang tepat dan juga di waktu yang tepat, saya tidak ingin terlalu terburu-buru, masih 23 tahun ini. Hehehe (walaupun kata Mamahku, 23 itu umur yang sudah matang sekali untuk berumah tangga, ffiuuh). Saya hanya takut saja tidak menikah dengan orang yang tepat atau di waktu yang tak tepat, karena jika berhadapan dengan sesuatu yang tidak tepat, itu hanya membuat hidup lebih complicated dan buang-buang waktu.

Btw, saya bahagia juga mendengar kabar dari kakak senior yang satu kos denganku insha Allah akan melangsungkan pernikahan di tahun ini. Alhamdulillah. Semoga perjalanan cinta Sang Kakak Seniorku di kampus ini bisa lancar, aamiin ya Allah.

I wish you well today, guys. Semoga goal yang diidam-idamkan, entah itu karir, percintaan ataupun yang lain-lain bisa berjalan dengan baik. Keep fighting yah! Terima kasih sudah membaca, Wassalam :)


Rabu, 21 Januari 2015

Monochrome Madness

Now Playing: Toni Braxton - Unbreak My Heart, zzz salah satu teman di kantor dari pagi muter lagu ini terus, katanya sih "mengenang masa muda cuy~" HAHAHA, iya teman kantorku emang sudah tua, masa muda dilewati dengan lagunya Mbak Toni Braxton, wailaahh...

Anyway, good morning fellas! How's your day? I wish you always better than yesterday, aamiin.
Di pagi yang cerah ini, i just wanna share some photos that i took. Sudah lama tidak berbagi memori yang saya tangkap di blog ini. Btw, kenapa judul postingannya Monochrome Madness? Iya, karena foto-foto yang akan saya post di update-an ini merupakan foto-foto yang berwarna hitam putih.

Ada beberapa orang yang pernah saya ajak diskusi tentang foto monochrome, dan sebagian mengatakan kalau foto monochrome (bw or sephia) bisa menimbulkan efek dramatis dari sebuah momen yang kita abadikan dalam sebuah foto. Well, ya it's work for me. Sometimes saya melihat beberapa postingan foto entah itu di instagram, tumblr, pinterest, dan socmed lainnya, jika ditampilkan dengan efek hitam putih, hasilnya lebih gimanaaa gitu.

So here they are beberapa momen yang berhasil saya abadikan. I just took all this photos by my cellphone, hehehe. So i am sorry if the result is not good enough huhuhu. Saya mengangkat beberapa sisi dari kota Jakarta dari mata seorang perantau (baca: saya) HAHAHA, jadi terkadang ada tempat atau momen yang menurut saya lucu saja jika diabadikan.

"aku tua tapi aku menyimpan kenangan
Masjid Cut Meutia di daerah Menteng

"perjalanan pulang"
di salah satu trotoar di daerah Manggarai

"Pengobat Rindu, Pemadam Kelaparan"
Mie Titi di Kedai Pelangi Khas Makassar

"Kuharap jembatan ini bisa mengantarku padamu, sang pemilik pelukan"
diambil di jembatan Tegal Parang - Jakarta Selatan

"Aku dari ketinggian, mencoba mencarimu di titik sana, tapi tak kutemukan"
diambil dari lantai 17 di salah satu apartemen di Pluit, Jakarta Utara

"Aku dan kamu hanyalah patung tak bernyawa namun digemari khalayak"
Ondel-ondel, salah satu ikon khas DKI Jakarta


"Biarlah aku menjadi bagian dari permainanmu, wahai Sang Pemilik Kehidupan"
diambil di salah satu dinding Pasar Asemka, Jakarta Barat

"Ini adalah lautan, yah sosok yang memisahkan aku dan kamu"
diambil dari anjungan di aparteman Pluit, Jakarta Utara

"Karena tetesan hujan mampu menyatukan langit dan bumi"
diambil dari dalam mobil di daerah Karawaci

"Karena berbagi mampu mengobati beberapa luka hati"
diambil di Tous Les Jours - Mall Alam Sutera, Tangerang

"Aku hanya ingin satu dari kamu langit, tolong sampaikan rindu ini"
diambil di Metropole Jakarta Pusat, XXI-nya merupakan tempat shooting Janji Joni 

"Macet bukan penghalang untuk melampiaskan rinduku"
diambil di salah satu jalan di daerah Manggarai

"pagi ini Jakarta sedang lowong"
Diambil di salah satu sudur jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan

"Dilarang Berhenti. Yah, aku memang tak ingin berhenti berjalan menuju hatimu"diambil di salah satu sudut di Epicentrum, Jakarta Selatan

"Menunggu Sang Pemimpin tiba"
Diambil saat menunggu iring-iringan Jokowi - JK tiba. Lokasi: Bundaran HI
Awrait pals, terima kasih telah menikmati beberapa jepretan saya, jika ada kritik atau saran bisalah kalian muntahkan di kolom komentar. Wassalam :)

Senin, 12 Januari 2015

ketika senja yang mendung itu tiba

Mendung menghiasi Jl. Teuku Cik Di Tiro sore ini...

Kini saya sedang duduk di depan komputer meja kerja, setelah hampir berapa jam menari dengan pekerjaan. Suara-suara chat di handphone mulai memanggil untuk dibuka, ada kabar, ada pertanyaan, ada pernyataan dan berbagai macam konten chat yang hanya membuatku menghela napas. Sudah bosan dengan rutinitas? Iya. Raga ini ada dimana, dan hati ini ada dimana. Ingin rasanya pulang, tapi sepertinya tak sopan jika baru seminggu bekerja di kantor dan sudah minta izin untuk pulang ke rumah yang jaraknya hanya bisa dilalui dengan kapal laut dan pesawat.

Berbagai macam lagu juga sudah mondar-mandir di telinga ini, mulai dari lagu keras hingga lagu mellow. Mulai dari Lamb Of God hingga Sore menggelar konser di mp3 playerku. Kuketuk-ketuk jari ini di atas meja, berpikir apalagi yang akan kutulis di halaman berwarna putih ini.

Ketika rindu menghujam, kapal logika di kepala ini pun karam, dan saya hanyut dalam kesenduan senja yang mendung ini. Mendung sedang bijak hari ini. Ia jauh lebih lihai membaca rindu dibanding langit yang cerah.

Saya cuma ingin satu.
Pulang ke Makassar.

Wassalam~