Jumat, 13 November 2015

One Day in Bajaj

Now Playing: Payung Teduh - Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan * one of my favorite romantic song.

So here I am again, while waiting the rain stop, I decided to write something in this blog. Hujan di luar lagi lucu-lucunya, sudah cakep mau ke Grand Indonesia dan pas menginjakkan kaki di teras kantor langsung whooozzz hujan, masuk lagi dan menyalakan komputer, try to refresh my memories and now I wanna write something.

Tiap kali saya melihat bajaj melintas saya selalu teringat dengan cerita ini dan membuat saya senyum-senyum sendiri.

Bajaj Orange | taken by me from halte Pasar Rumput
So in one fine day, sekitar beberapa bulan lalu pas bulan puasa (Juni 2015), saya ingin bertemu dengan teman saya di Seven Eleven daerah Tugu Tani dan di depan kantor saya setopin dah satu bajaj, dan abangnya masih muda lah ya. Bajajnya keren ada musiknya, saya teringat bentor (becak motor) di Makassar yang musiknya selalu tarakdungcesss dubs dubs ajib gimana gitu, tapi bajaj ini musiknya lain, seingat saya ST 12 deh yang liriknya "sungguh aku masih sayang padamu... jangan pernah kau tinggalkan aku" Yah yang itu lah.

Dan pas saya lagi di atas bajaj, ada teman saya, Arnold (bule Australia yang random kenalan pas jalan di Kota Tua) tiba-tiba nelpon nanya bus ke Karawaci dari Blok M itu nomer berapa, jadi nelponannya pake bahasa Inggris dan setelah menjelaskan ini itu kepada Arnold, telpon saya tutup dan kembali menikmati perjalanan. Dan tiba-tiba Si Abang Bajaj bertanya pada saya...

Abangnya: Mbak Inggrisnya lumayan lancar yah?
Me: Ah tidak juga Bang, itu tadi asal nyeletuk aja
Abangnya: Kalo gitu bantuin saya boleh ngga Mbak?
Me: Bantuin apa bang?
Abangnya: Ini tolong sms ke nomer ini, bilang "Uti, Aku akan selalu sayang sama kamu. Jaga diri baik-baik" tapi bahasa Inggris yah Mbak.

Si Abangnya menyerahkan hp-nya ke saya, beserta secarik kertas kecil yang ditulisi serangkaian nomer hp yaitu nomernya Si Uti. Saya pun mengetik dengan lancar kalimat yang diinstruksikan oleh Abang Bajaj. Saya menulis "Dear Uti. I will always love you no matter what. Take care of yourself". Dan "Bang sudah saya ketik, saya kirim ya", Si Abang Bajaj mengiyakan. Lalu iseng saya bertanya..

Me: Emang Si Uti ada di mana Bang? Pacaran jarak jauh ya? Hehehe maap Bang saya sotoy.
Abangnya: Gapapa kok Mbak. Uti sekarang lagi di Kalideres
Me: Loh kok ga disamperin bang? Naik busway kan bisa? (yakali bawa bajaj dari Tugu Tani ke Kalideres)

Lalu.... Abangnya diam. Saya juga diam. Mungkin Abangnya tersinggung oleh pertanyaan saya, tapi pada saat saya ingin meminta maaf, Si Abang angkat bicara.

Abangnya: Setelah lebaran, Uti mau nikah, Mbak. Itu yang tadi saya suruh sms Mbak mungkin sms terakhir saya untuk Si Uti. Saya pakein bahasa Inggris biar lebih syahdu gitu Mbak. Hehehe. Makasih yah Mbak atas bantuannya.

JDERRRR!! Padahal tidak sedang hujan, tapi saya seperti disambar petir mendengar pernyataan dari Si Abang Bajaj. This is the most sad love story that I ever seen live from my eyes. Saya sudah sering mendengar keluhan ataupun kisah sedih dari beberapa kerabat saya, tapi menurutku ini yang menyentuh saya, padahal saya tidak mengenal Abang Bajajnya secara personal, tapi rasa empati tiba-tiba muncul.

Tapi saya salut dengan Abangnya yang terlihat tegar walaupun mungkin aslinya rapuh banget seperti ranting pohon yang tipis yang kena angin langsung ambyar. Dia terlihat strong dan tidak menye-menye, bahkan sempat-sempatnya mengeluarkan kalimat "Yah, sabar aja Mbak.. Jodoh rejeki sudah diatur sama Dia, mungkin Uti bukan yang tepat bagi saya, walaupun sayang mah.. tapi udah jalannya dia nikah dengan orang lain bukan saya".

Pada saat kalimat itu terucap, saya sudah sampai juga di depan Seven Eleven Tugu Tani, saya meminta nomer hape Abangnya (buat jadi langganan di kemudian hari), membayar dan memberi pukpuk ke Abangnya. Saya selalu ingat kalimat dari Si Abang untuk saya "Mbaknya semoga ketemu orang yang tepat yah. Makasih Mbak, hati-hati" Saya dalam hati langsung mengamini, ada yang bilang doa orang yang sedang sakit hati katanya lebih mudah dikabulkan.

Yah, people live with their own problems, but problems can make us strong isn't it? Saya punya masalah, orang tua punya masalah, pacar punya masalah, abang bajaj punya masalah, hidup kita pasti akan selalu dibayang-bayangi oleh masalah mau ringan ataupun yang sudah kelas kakap. All we have to do is accept that shit and go ahead and finish 'em all no matter how long the process is.

Dan masalah saya sekarang, apakah saya akan stay di kantor sampai hujan reda, atau go ahead menghadapi hujan di luar yang diwarnai dengan petir-petir cantik. I still don't know, maybe I have to make a cup of tea and listen to good songs. Thanks for reading by the way. Wassalam :)

5 komentar:

Erwin Darma Ristyan mengatakan...

itu si abang bajaj patah hatinya dalem, banget ya. Semoga dia benar gak ngelakuin hal yang negatif.

Imam Rahmanto mengatakan...

Ceritanya Bang Bajaj nyentuh banget. :D

Eka Fauzia Lestari mengatakan...

jleb!

Lispa Lui mengatakan...

Jeddaarr!!!!
Cocok ko memang kalo nulis soal yg beginian.. Hahahahahahahhaha

Aldhy Gunawan mengatakan...

Untuk kak Alvidha. Terima kasih sudah memberi saya inspirasi pertama kali untuk mencoba menulis cerita saat itu (tahun 2010). Terima kasih karena membaca tulisan di blog waktu itu dan saya mulai belajar menulis. Terima kasih inspirasinya. Terima kasih banyak!