Kamis, 03 Juli 2014

Mengapa Menulis?

Jika filsuf bernama Descartes berkata “Cogitu Ergo Sum” yang artinya “aku berpikir maka aku ada”, maka saya akan mengatakan “Aku Menulis Maka Aku Ada”. Dengan menulis, seluruh manusia akan tahu jika ternyata kita berada dan eksis di dunia ini. Entah dengan melihat tulisan kita di dinding, di kertas, buku, blog, wall facebook, status twitter dan lainnya. Coba saja jika kita membuat akun di blog tapi sama sekali tidak pernah mengisinya, kita dianggap tidak ada oleh para blogger yang lain. Dengan tulisan, keberadaan kita diakui.

 Menulis itu menjadikan apa yang dialam pikiran sehingga dapat dilihat oleh mata. Coba bayangkan seandainya kita tidak menulis, kita akan menumpuk beban pikiran di kepala dan bisa berujung pada sesuatu yang bernama “stres”. Dengan menulis, semua beban bisa kita bagi. Pernahkah kamu merasa tenang setelah menulis? Ya, saya sering. Dengan tulisan kita bisa membuang “sampah” yang terpendam di kepala. Sehingga kita bisa menjadi lebih segar dan awet muda setelah menulis. Karena menulis adalah penenang jiwa dan pelepas dahaga kesepian.

Cukup dengan membuka notes, atau Microsoft Word, menulis apa yang kita rasakan seharian ini, atau menulis tentang perasaan yang terpendam, walaupun kita tak bercerita kepada orang, tapi bercerita melalui tulisan rasanya bisa menghilangkan beban pikiran yang ada.

Dengan menulis, orang-orang bisa tahu tentang diri kita walaupun mungkin kita tidak pernah bertatap muka. Contoh: Saya tidak pernah bertemu dengan seorang penulis favorit saya secara langsung, tapi saya tahu kehidupan dia, mengapa? Karena dia menulis, dia berbagi, dia bercerita, melalui tulisannya di harian online dia, entah melalui blog ataupun status di twitter atau facebook, dan bisa juga melalui buku yang dia terbitkan.

Tapi kadang banyak orang yang jarang menulis dengan alasan tidak bisa. Semua orang bisa menulis, mereka mungkin saja malas. Mengapa saya katakan semua orang bisa menulis? Karena mereka bisa membalas sms, mengomentari status facebook dan membuat status twitter. Jadi tidak ada alasan bagi mereka bahwa mereka semua tidak tahu menulis. Semua orang bisa menulis, persoalannya adalah mau atau tidak.           
 Mulailah menulis dari apa yang kita tahu, memotret fenomena di kepala dan menulislah menurut sudut pandang yang paling kita suka. Menulislah dan jadilah dirimu sendiri. 

Wassalam :)

3 komentar:

Try Juandha mengatakan...

Cieh, kakak penulis. Heheh Kak dimana domisilita sekarang? Kalau ke Bulukumba ki lebaran, singgahki ke rumah nah!

Alvidha Septianingrum mengatakan...

Juanda: Hahahaha postingan lama ji ini adekbro.. skarang lagi di Jakarta sih.. insha Allah kalo pulang kampung.. slamat berpuasa :D

felicity mengatakan...

Bahasa latinnya: "Scribo Ergo Sum"..."I write therefore I am" ...."Saya menulis maka says ada"...

Setuju banget dengan ungkapan ini :)