Jumat, 26 Oktober 2012

menjadi humas...


Pagi itu di kelas Studi Kasus Public Relations, saya dengan berani mengangkat tangan kanan saya “Pak! Saya ambil kasus Universitas *tiitt*  dan Penyebaran Narkoba” kemudian Pak Dosen menyetujui kasus saya dan Oke! Kamu jadi Humasnya Universitas *tiit*” (nama institusinya saya samarkan yah, hehehe!).  Yah, diantara semua mata kuliah yang pernah saya pelajari, sepertinya mata kuliah Studi Kasus ini yang sifatnya “PR BANGET!”. Fiuh setelah sekian lama!

Menjadi Humas sepertinya adalah tugas yang cukup sulit. Menghadapi eksternal dan internal sebuah institusi, harus ramah dan senyum setiap saat kepada orang-orang, humble dan santai-santai serius, serta harus siap menerima omelan dari atasan, bawahan, samping, kiri dan kanan.  Belum lagi pemberitaan di media yang kadang bengkok sana bengkok sini yang bisa membuat kepala seorang Humas bisa meledak cetar-cetar membahana.

Walaupun di mata kuliah ini kita hanya seolah-olah menjadi seorang Humas atau Public Relations, tapi bagi saya ini adalah kerjaan yang cukup berat. Mengapa saya katakan berat? Karena kebetulan saya magang di Humas Unhas dan hampir tiap hari saya melihat Pak Humas. Hahaha. Sudah 2 bulan saya magang disana, dan of course sudah pasti mengenal beliau. Mulai dari beliau panik, riang gembira, stress dan lain-lain. Jadi, saya menyimpulkan kalo saya akan menjadi seperti beliau. Hahahaha, dan itu adalah tugas yang cukup berat, pemirsa!

Dan setelah mengkaji lebih jauh *tsah! Sebelum kita menjadi humas untuk sebuah institusi, hendaknya kita menjadi humas untuk diri kita sendiri dulu. Menjaga citra diri sendiri di beberapa orang, walaupun tetap “just be yourself” adalah motto terbaik, namun terkadang ada beberapa hal yang kamu harus sembunyikan dari beberapa orang, seperti jika kamu suka kentut sembarangan, yah ditahan saja dulu. Tenang! Orang yang mencintaimu adalah orang yang menerima dirimu apa adanya tanpa citra ini itu *lagi kumat bijaknya.

Menjaga citra diri dibarengi dengan menjadi diri sendiri memang adalah 2 hal yang sulit dilakukan secara bersamaan. Kadang kita  ingin berhura-hura loncat-loncat kegirangan namun ada sesuatu yang membuat kita harus jaga image. Tralala trilili. Yah pintar-pintarnya kita sajalah bagaimana mencampurkan keduanya.

Dan kini saya sedikit pusing bagaimana memecahkan kasus yang saya ambil ini. Menjadi Humas sebuah tempat yang diyakini sebagai sarang penyebaran narkoba. Ibaratnya seperti kamu memiliki seorang pacar cakep yang dikenal banyak orang namun ternyata dia adalah seorang pengedar narkoba. Antara membelanya dan membuatnya menjadi lebih baik atau lari meninggalkannya. God bless me and this homework. Wassalam J

Tidak ada komentar: