Páginas

Minggu, 03 Oktober 2021

Belajar dari Netflix Series "Never Have I Ever"

Jujur, pandemi membuat saya mencoba menggeluti hal yang dulunya kurang begitu saya minati, salah satunya adalah menonton series. Yang kenal pasti tahu sih bahwa Alvidha kurang suka nonton series dan lebih menyukai nonton film yang 1x tayang langsung tamat, ya alasan simple sih "I have no time, I prefer sleep" HAHAHA. 

Jadilah dari tahun lalu saya mencoba menikmati beberapa series barat yang ada di Netflix mulai dari Sex Education, Peaky Blinders, Sex/Life, Emily in Paris juga Brooklyn Nine-Nine. Selain barat, saya juga menonton beberapa K-Drama dan bisa SAMPAI TAMAT LHO (sebuah achievement) antara lain Sky Castle, The World of the Married dan Start Up, yah memang untuk K-Drama itu tergantung mood sih. 

Nah untuk postingan kali ini, saya ingin membahas salah satu series yang selama weekend ini langsung saya habiskan, judulnya Never Have I Ever (rilis tahun 2020, ada 2 season, masing-masing ada 10 episode).  Actually maafkan kalo postingannya lompat-lompat karena saya sendiri bukan tukang reviewer :))


Never Have I Ever adalah sebuah series drama komedi teenager yang menceritakan kehidupan Devi Vishwakumar, siswi keturunan India yang bersekolah di SMA Sherman Oaks. Devi memiliki trauma yang mendalam karena harus menyaksikan ayahnya meninggal karena serangan jantung tepat pada saat dia harus perform harpa di acara sekolah. Kebayang gak sih? Sampai dia mengalami psikosomatis parah yang menyebabkan dia lumpuh dan memakai kursi roda, lucky her selama masa lumpuh ada 2 sahabat baiknya yang sangat setia menemani yaitu Eleanor dan Fabiola. 

Suatu hari dia melihat teman sekolah namanya Paxton Yoshida - cowok ganteng turunan Amrik Jepang , dan naksir berat. Dari rasa naksir itulah dia bisa sembuh dari kelumpuhan wkwkwk, AJAIB! Lalu setelah lumpuhnya sembuh dan bisa berjalan lagi, Devi, Eleanor dan Fabiola bertekad bahwa mereka harus jadi genk unggul dan jadi "it girl" lah ya, walaupun susah secara mereka bertiga adalah "cewek-cewek etnis", Devi adalah seorang keturunan India, Eleanor dari Tiongkok dan Fabiola keturunan afro-latin.  

Cerita series ini segar banget sih menurutku, karena tiap episode-nya singkat, padat dan jelas. Tidak seperti drama teenager pada umumnya (namun ku akui series teenager yang masih juara adalah Sex Education - nanti lah ya kita bahas ini). Devi yang trying so hard to be "it girl" sambil mengejar nilai akademik karena ingin masuk Princeton Univ, Eleanor yang pengen banget jadi artis, dan Fabiola yang galau karena dia baru sadar jika dirinya adalah lesbian. 

Hal yang paling saya sukai dari series ini adalah pentingnya kesadaran warga sana akan mental health. Di setiap episode pasti kita akan disuguhkan scene Devi bertemu psikolognya, yaitu Dr. Ryan.



Devi seorang siswi SMA tidak malu menceritakan segala trauma, kegundahan dan segalanya ke Dr. Ryan, psikolognya. Devi memang didaftarkan oleh Ibunya untuk mendapatkan sesi terapi. Devi adalah seorang teenager yang memiliki trauma mendalam karena kepergian ayahnya, culture India yang masih mendarahdaging dari Ibunya, memiliki ekspektasi agar menjadi siswa teladan dan juga it girl di sekolah. Dan sadar harus terapi ke psikolog adalah poin yang sangat bagus menurutku. 

Jujur, saya pun baru sadar akan pentingnya mental health itu sekitar 6 atau 7 tahun lalu yang dimana tahun tersebut baru diperkenalkan dengan fungsi psikolog/psikiater. Sebelumnya saya selalu judge bahwa psikiater itu hanya untuk "orang dengan gangguan jiwa". 

Melalui series ini, pikiran saya semakin terbuka, once ketika nanti anak saya memiliki kecemasan atau entah apa, saya harus menjadi orang tua yang paling tidak bisa mendengarkan segala kegelisahan dia, bukan hanya orang tua yang memenuhi kebutuhan fisiknya saja, tapi juga menjadi orang tua yang memenuhi pendekatan jiwanya. Menjadi orang tua yang bisa menjadi bahu sandaran ketika dia sedang galau, atau kalaupun tidak bisa, paling tidak bisa membawa dia ke psikolog atau psikiater. 

Dari series ini, saya juga belajar bahwa Puan beberapa tahun lagi, jika diberi umur panjang, akan melewati fase teenager sama seperti Devi, Eleanor, Fabiola dan karakter lainnya. Dan saya harus siap menghadapi itu semua. Paling tidak saya harus mendukung keputusan hidup dia, mengijinkan dia berkegiatan di luar (asalkan yang positif ya), mengajarkan dia menjadi teman baik dan hal positif lainnya. Aamiin.

Selasa, 02 Maret 2021

Tangisan Pagi

 Pagi ini hujan turun di Bekasi, saya cuma berdua dengan Puan di rumah karena Baba' sedang dinas. Puan sedang menikmati bubur ayam, petir pun bergemuruh. Saya pun ngide untuk akting ketakutan 

Me: Puaaan.. Mama takuuuuuttt.. huhuhu

Dan Puan turun dari bangkunya, memegang tanganku dan berkata dengan terbata-bata "Mama.. No takut... Ini Puan.. Mama no takut". Tanpa sengaja diri ini langsung menitikkan air mata di sudut mata. My daughter really loves me. Purely. Love you Puan. 

Wassalam.

Kamis, 04 Februari 2021

Rindu Stasiun Kereta

Tadi pagi saat membuka timeline twitter, saya melihat postingan dari akun @txtdrjkt tentang kegemaran seseorang memotret situasi di stasiun kereta. Sebagai orang yang juga menyukai suasana stasiun, saya pun membagikan juga beberapa foto yang saya ambil dari berbagai stasiun kereta yang berada di Jabodetabek.





Jujur kangen banget sih sama suasana stasiun. Teringat momen harus lari-larian dari pintu masuk ke peron hanya untuk mengejar kereta jadwal pagi, tumpuk-tumpukan bersama para pencari duit Ibukota serta rebutan kursi. Saya juga jadi teringat momen awal kerja di kantor baru yang lebih santai yaitu sengaja pulang jam 16.00 untuk ngejar kereta 16.44 arah Manggarai-Bekasi terus sambil nunggu beli shabu-shabu murah dari Lawson rasanya ahhh mantapp!

Kalo dipikir, warga Ibukota memang strong dan struggle sih. Mau naik kendaraan pribadi maupun umum. Bawa kendaraan pribadi yah bersiap saja dengan kemacetan, naik kendaraan umum siap-siap saja jadi "ikan sarden" atau opsi beli/sewa tempat tinggal dekat kantor? Harus sediakan dana yang spektakuler. 

Doaku selalu menyertai para pekerja Ibukota yang selama pandemi ini harus tetap berkantor tatap muka, semoga selalu dilindungi dan diberi kesehatan. Aamiin! Begitupun yang wfh, semoga tetap waras di rumah, manfaatkan priviledge wfh ini dengan baik. 

Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa hidup secara normal lagi. Aamiin. 

Senin, 01 Februari 2021

Melawan Ketakutan di 2021

Halo, Genks! Semoga kalian selalu sehat!

Sesuai judul Melawan Ketakutan. Yap, sejak lama saya punya ketakutan untuk menyetir mobil, yah takut aja gitu hahaha. Saya selalu takut ketika misal bisa menyetir dan nabrak orang, terus orangnya ngeroyokin. Saya memiliki trauma dengan kegiatan menyetir mobil, dimulai dari Mama saya sendiri.
Pernah pas SMP, saat diantar ke sekolah oleh Mama saya dengan mobil kantor milik Papa. Ingat banget mobil Kijang kotak. Nah pagi itu lagi apes, Mama nabrak pengendara motor yang adalah seorang tentara. Di posisi ini Mama memang salah karena mau memotong jalan yang tidak seharusnya dan dari arah samping, pengendara motor ini kencang banget dan duwaaarrr! Tabrakan tapi alhamdulilah Si Tentaranya selamat. Nah yang bikin trauma, mereka berdua bertengkar sampai rebutan kunci serta adu mulut dan saya sedang duduk di depan melihat itu semua dan menangis (padahal saya cuma penumpang wkwk tapi ya nangis aja gitu). Disitulah ketakutan saya muncul "I never drive a car" kataku dulu dalam hati hahahaa.

Seiring waktu berjalan dan rezeki yang datang ke keluarga kecil saya, kami bisa membeli mobil. Nah disinilah suami saya mengultimatum bahwa saya harus bisa menyetir mobil. Suami cukup menyayangkan mengapa saya tidak bisa bawa kendaraan padahal sebelum menikah, keluarga saya memiliki mobil which is katanya itu adalah sebuah priviledge. Lalu saya ceritakan bahwa saya panikan, takut dan lalalili. Saya cerita pernah belajar tapi takut dan ujung-ujungnya ya mandeg, Guyz! Hahahaha. 

Tapi, suamiku tetap gigih menyuruhku untuk pandai menyetir. Mengapa? Suamiku selalu pergi keluar kota, tidak diminta-minta takut ada hal urgent dan dia sedang tidak di rumah. Mau andalkan taksi online sampai kapan? Toh mobil juga sudah punya. Yah demi suami dan si buah hati akhirnya di Januari kemarin saya mendaftarkan diri di kursus menyetir mobil dekat rumah. Saya mengambil langsung paket mobil matic, karena saya sudah lelah belajar kopling hahaha, toh mobil di rumah memang matic. 

Selama 4 hari saya belajar, tiap pertemuan memakan waktu 2 jam. Saya diajar oleh guru profesional di bidang menyetir dan pastinya SABAR BANGET menghadapi saya yang dikit-dikit rem dan masih takut ngegas hahahaa. Saya pun menghapal beberapa saran penting dari guru nyetir saya bahwa "jangan panik, kalo ada apa-apa mending rem daripada banting setir". 

Coba nyetir mobil sendiri *difotoin suami

Selepas kursus, saya juga latihan dengan mobil saya sendiri di jalan. Alhamdulilah sudah bisa tipis-tipis, walaupun kata suami "Kamu ya kalo bawa mobilnya pelan gini, kasian orang di belakang, beraniin aja injak gas" Yah namanya juga belajar ya kaaan harus pelan-pelan dulu, wkwk. 

Ketakutan memang jika tidak dihadapi akan selamanya takut. Jadi ya coba saja. Sekarang sisa menunggu waktu untuk mengurus SIM dan mencoba jalan lagi kesana kemari dengan mobil. Doakan ya teman-teman, semoga bisa!


Selasa, 16 Juni 2020

Tiga Bulan #DiRumahAJa

Keep Moving Forward


Tahun 2020 adalah tahun yang membuat saya mempelajari arti dari bersyukur itu sendiri. Awal tahun saya dibuat pusing dengan banjir yang melanda rumah (tapi alhamdulilah airnya cuma sampai di betis, tidak sampai masuk ke mobil dan kita masih nginap di lantai 2 rumah), bulan Maret sempat liburan sendiri dulu jalan ke Jaipur, Agra dan New Delhi dan pulang dari sana langsung stay di rumah sampai saya mengetik tulisan ini. 

Sudah 3 bulan, kami bertiga mendekam di rumah. Melewati hari dengan tertawa, kerja depan laptop atau handphone, main bersama, terkadang bosan datang juga. Saya dan suami sampai hapal kegiatan rutin yang kita kerjakan dari bangun tidur pagi sampai tidur malam lagi. Tiga bulan yang sungguh berbeda dari biasanya. Sebelum pandemi, kami bertiga memang jarang bertemu full time, paling saat weekend saja. Senin - Jumat, Puan seharian dititip di daycare, saya dan suami kerja di kantor masing-masing, terkadang jika beliau ada jadwal audit ke luar kota, saya dan anak hanya berdua di rumah, ketemu suami pas weekend lagi. Sejak Pandemi, suasana sungguh berubah, kami bertiga selalu bersama 24/7 seperti call center Mekdi hahaha. 

Selama 3 bulan ini, saya juga merubah pola hidup. Saya kembali menjalankan pola hidup sehat yang pernah saya jalani sewaktu masih ngekos dulu. Mulai berolahraga tiap sore, mulai makan sehat dan memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh. Sepulang dari India, badan saya gampang lelah dan cepat masuk angin, dan sejak itu saya memutuskan mumpung mendekam dalam rumah, saya mau fokus menyehatkan kembali tubuh saya. 

Selama 3 bulan ini, saya belajar hal yang baru seperti memasak makanan nusantara (yang dulu cuma bisa, nasgor dan MPASI anak aja wkwkw), terus kembali menekuni dunia TIK dan juga belajar menyetir. Alhamdulillah di akhir tahun kemarin, kami diberi rezeki untuk membeli mobil dan suami wanti-wanti agar saya belajar berkendara. Dulu saat masih tinggal dengan orang tua, saya malas belajar menyetir karena punya prinsip: Kalo ada yang ngantar, ngapain belajar? Agak kupret emang prinsip saya. Tapi sekarang saya menyesal, saya harus belajar walaupun sebenarnya malas hahaha. 

Saya selalu berdoa agar pandemi ini cepat berakhir. Ada banyak orang di luar sana yang cukup carut marut akibat pandemi ini. Saya termasuk beruntung, alhamdulillah selama pandemi kehidupan finansial saya dan suami masih normal, saya masih dapat gaji bulanan dari kantor, begitupun suami. Suatu hari saya mendapati telpon dari seorang teman yang di-lay off oleh kantornya. Saya bingung mau berkomentar apa, saya hanya mendengarkan dan memberikan dia semangat. 

Semoga semua kembali menjadi normal. Aamiin

Wassalam
 

Kamis, 11 Juni 2020

Suatu Sore di Delhi

Agrasen Ki Baoli di Kota Delhi
Awal Maret 2020 (Sebelum Lockdown)

(Anyway ini bukan postingan travelling ya hehehe, cuma mau nulis santai aja)

Anjay-lah judulnya.. biasanya juga "Suatu Sore di Pengkolan". Mohon maaf, Gaez.. 'Naik kelas' dikit jadi Delhi, hahahaha *shombonk~

Sore itu, saya termenung saat duduk di salah satu pijakan tangga di Agrasen Ki Baoli ini. Sambil menatap langit, segelintir percakapan mengalir di kepala saya:

"Hahaha, gokil ya Alvidha.. Sekarang mainnya jauh banget. Alhamdulillah , mimpimu untuk travelling ke India terwujud. Yah, kamu memang butuh refreshing dari kemarin.. tapi dasar ya kamu banyak mau, sekalinya refreshing langsung ke India"

Yah itu adalah percakapan dari saya untuk saya sendiri.

Langit Kota Delhi di sore itu cukup cerah, burung merpati terbang segambreng ditambah sayup-sayup terdengar suara musik India di gerbang Agrasen Ki Baoli ini. Ini adalah salah satu tempat syuting favorit di film Bollywood. Pernah nonton film PK? Yah ada scene Aamiir Khan lagi duduk mengkhayal disini.

Sore itu saya menitikkan air di sudut mata, karena Delhi adalah kota yang terakhir saya kunjungi di rangkaian tur India itu. Sejenis air mata bahagia. Gimana sih rasanya kalo salah satu impianmu bisa terwujud? Bahagia kan? Yah, itu lah yang saya rasakan. Selama perjalanan di India saya tidak berhenti tersenyum. Walaupun kotanya agak random dan panas hahahaha tapi senyum tetap terangkai di wajah. 

Saya akan selalu merindukan India dan seisinya. Semoga bisa bertemu lagi di lain waktu.

Wassalam